MASIH MENUNGGU REVISI UU ; Daop VI Belum Berencana Operasikan Jalur Baru
Meski Departemen Perhubungan telah mengeluarkan pernyataan bahwa masing-masing daerah berhak mengelola transportasinya sendiri termasuk perkeretaapian, namun PT KA Daop VI belum memiliki rencana jangka pendek untuk membuat jalur KA baru ataupun menghidupkan kembali jalur KA yang sudah lama tidak digunakan.
Plh Humas PT KA Daop VI Mochtadi di ruang kerjanya, Kamis (4/5) mengemukakan, untuk menata jalur KA sendiri, masih harus menunggu selesainya revisi Undang-Undang nomor 13 tahun 1992 tentang perkeretaapian yang saat ini tengah dalam tahap pembahasan antara pemerintah dengan DPR RI.
“Sebelum revisi UU tersebut selesai, kami tetap berpedoman pada UU lama yang di dalamnya belum mengatur hal itu,” kata Mochtadi.
Namun, lanjutnya, jika UU tersebut telah direvisi, tidak menutup kemungkinan, Pemerintah Daerah maupun swasta bersama PT KA bisa ikut andil dalam mengelola perkeretaapian. Sehingga pembuatan jalur baru untuk jarak pendek dapat terwujud.
Lebih lanjut Mochtadi menuturkan, pertengahan tahun lalu, PT KA Daop VI bersama dengan Pemprop DIY dan tim ahli dari Cekoslovakia juga telah melakukan studi kelayakan untuk mengoperasikan KA jarak pendek dengan rute Prambanan-Tugu-Wates. Namun hingga sekarang belum ada kepastian kapan proyek tersebut terealisasi.
Ditanya mengenai usulan dari Dephub untuk melakukan revitalisasi jalur KA yang sudah lama tidak digunakan Mochtadi mengemukakan, sesuai dengan UU nomor 13, kebijakan tersebut berada di tangan Dephub. Sampai sekarang pihaknya juga belum mendapat instruksi langsung dari Dephub untuk melakukan revitalisasi jalur KA.
Disebutkan untuk wilayah DIY sendiri terdapat 2 jalur KA yang sudah lama tidak dipergunakan, yaitu Yogya-Bantul sepanjang 14,9 Km dan Yogya-Magelang sepanjang 46,8 Km. Kondisi rel saat ini sebagian sudah tertimbun tanah, bahkan ada yang berubah menjadi pemukiman penduduk.
“Untuk menghidupkan kembali jalur tersebut juga perlu dipertimbangkan untung ruginya. Kalau digunakan untuk angkutan umum, mampukah KA nantinya bersaing dengan moda angkutan lain yang jauh lebih cepat. Tetapi jika dikembangkan untuk jalur khusus wisata peluangnya justru lebih besar. Wisatawan dari Yogya bisa berkunjung ke Candi Borobudur dengan menggunaan kereta,” tambah Mochtadi.
Sementara itu, Manager Garuda Wisata Tour’s dan Travel Edy Prabowo mengemukakan, guna mendukung kepariwisataan di Yogyakarta, pihaknya bersama anggota Asita (Association of The Indonesia Tour’s dan Travel Agencies) terus berupaya untuk meningkatkan pelayanannya. Bahkan, gencar melakukan promosi.
Bahkan, pihaknya melakukan terobosan dan ‘jemput bola’ terhadap wisatawan, baik domestik dan asing dengan servis yang baik.
“Karena jika pelayanan yang buruk hanya akan membuat ‘kapok’ turis untuk datang lagi. Selain itu, untuk memberikan rasa nyaman kami juga bekerjasama dengan biro perjalanan wisata lainnya, agar pelayanannya menjadi lebih optimal,” ujar Edy.
Senada disampaikan pengelola Millenium Tour’s dan Travel, Bangun. Menurutnya, pihaknya akan memberikan pelayanan yang optimal kepada konsumen yang disesuaikan dengan harga yang ada. Apalagi, persaingan usaha biro perjalanan atau travel sekarang ini cukup ketat.
“Kalau harga yang diajukan konsumen cocok dan sesuai dengan kami, serta waktu pemesanan tidak mendadak akan kami layani. Namun, jika harganya tidak sesuai dengan biaya perjalan yang diajukan tersebut terpaksa kami tak layani, demi kepuasan konsumen yang lain,” ujar Bangun.
Sumber: www.kr.co.id, 5 Mei 2006
